Langsung ke konten utama

Biomassa

 Biomassa

(Ahmad Iqbal Athoriq, Teknik Fisika)

Biomassa merupakan besaran yang meliputi banyaknya organisme yang hidup pada makhluk biologis salah satunya tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Peran biomassa untuk saat ini sangat besar melihat prosesnya yang menggambil sumber energi tanpa merusak lingkungan. Salah satu contohnya adalah bioetanol dimana pembuatanya memanfaatkan fermentasi dari biomassa seperti tebu, umbi-umbian, dan jagung, yang dilanjutkan dengan destilasi. Jenis bioetanol ini dapat digunakan secara langsung maupun tidak langsung sebagai bahan bakar. Bioetanol dan biobutanol dari biomasa lignoselulosa menjadi bahan bakar terbarukan yang sedang menarik perhatian banyak peneliti. Berbagai macam biomasa lignoselulosa yang berupa limbah pertanian, perkebunan, pengolahan hasil hutan, industri dan sampah kota telah diteliti untuk dikonversi menjadi alkohol.



Polimer merupakan bahan-bahan yang biasa digunakan sebagai bahan baku konstruksi bangunan seperti cat, perekat, vernis, dan masih banyak lagi. Adapun hubungan biomassa dengan polimer ialah struktur pada tumbuhan yang dimanfaatkan untuk biomassa  adalah bagian dari polimer. Seperti contoh bahan lignoselulosa merupakan biomassa yang berasal dari tanaman dengan komponen utama lignin, selulosa, dan hemiselulosa yang  bahan tersebut sering dimanfaatkan pada bahan baku bangunan.

BEF merupakan sebagai rasio antara Biomassa keseluruhan pohon dengan biomassa batang. Dalam hal ini biomassa batang yang dimaksud kebanyakan mengacu kepada batang komersial (commercial stem) atau merchantable stem. Brown (1997).

BEF = Wt / V

BEF = Biomass expansion factor (Mg/m3); 

Wt = total biomassa tegakan (Mg/ha);

V= volume tegakan (m3/ha);

Brown and Lugo (1992), memberikan persamaan untuk menghitung BEF sebagai berikut:

BEF = Exp [3.213 – 0.506 x ln (BV)]

Untuk BV<190 t/ha; 1.74 untuk BV≥ 190 t/ha; Jumlah sample 56; r2 = 0.76. BV= biomassa dari volume hasil pendataan (t/ha) yang dihitung dari Volume kayu bulat berkulit / volume over bark (m3/ha) dan berat jenis kayu (t/m3)

Menurt Brown (1990), VEF, didefinisikan sebagai sebagai rasio dari volume terdata untuk keseluruhan pohon dengan minimum diameter 10 cm atau lebih (VOB10) dengan volume terdata untuk seluruh pohon dengan diameter minimum 25-30cm atau lebih (VOB25-30). Apabila ditulis dengan singkat, maka VEF adalah rasio PENGHITUNGAN BIOMASSA 7 Sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon antara (VOB10) dengan (VOB25-30). Persamaan untuk menghitung VEF dari hasil studi di daerah tropic di Amerika dan Asia adalah sebagai berikut :

VEF = Exp[1.300 – 0.209 x ln(VOB30)]

Untuk VOB 30 250m3/ha; 1.13 untuk VOB30 > 250m3/ha

 

Daftar pustaka

[1]. Sutaryo, Dandun. “Sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon”. Wetlands International Indonesia Programme 2009.

[2]. Euis Hermiati1 , Djumali Mangunwidjaja , Titi Candra Sunarti , Ono Suparno , dan Bambang Prasetya. “Pemanfaatan Biomassa Lignoselulosa Ampas Tebu Untuk Produksi Bioetanol”. UPT BPP Biomaterial – LIPI, Jalan Raya Bogor km 46, Cibinong, Bogor 16911. Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB. 2010.

[3]. Ratni Kartini1 , H. Darmasetiawan , A. Karo Karo2 dan Sudirman. “Pembuatan Dan Karakterisasi Komposit Polimer Berpenguat Serat Alam”. Jurnal Sains Materi Indonesia Indonesian Journal of Materials Science Volume 3 No. 3, Juni 2002, hal : 30 – 38.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses-Proses Termodinamika

Proses-Proses Termodinamika (Ahmad Iqbal Athoriq) Teknik Fisika Dalam Termodinamika memiliki beberapa proses diantaranya: 1. Isobarik, merupakan perubahan keadaan gas pada tekanan tetap 2. Isokhorik, merupakan perubahan keadaan gas pada volume tetap 3. Isotermik, merupakan perubahan keadaan gas pada suhu tetap  4. Adiabatik, merupakan perubahan keadaan gas dimana tidak ada kalor yang masuk maupun keluar

Ac Sentral

  AC sentral merupakan sistem pendinginan ruangan yang dikontrol dari satu titik atau tempat dan di distribusikan secara terpusat ke seluruh isi gedung dengan kapasitas yang sesuai dengan ukuran ruangan dan isinya dengan menggunakan saluran udara / ducting ac. AC sentral memiliki 8 komponen utama Diantaranya adalah Chiller atau bagian pendingin, Air Handling Unit (AHU) atau bagian pengatur udara, Cooling Tower, sistem pemipaan atau bagain distribusi, ducting atau bagian saluran udara, system control & kelistrikan. 1.       Chiller Chiller atau Unit Pendingin merupakan mesin yang berfungsi untuk mendinginkan air di bagian evaporator. Air dingin ini yang kemudian dialirkan ke mesin penukar kalor (Fan Coil Unit) sebelum ditransfer ke seluruh ruangan yang terhubung dengan AC sentral. Jenis Chiller atau Unit Pendingin dibagi berdasarkan model kompresornya,ada 3 diantaranya: Reciprocating Screw dan Centrifugal Dan jenis Chiller atau Unit Pendin...

Mengenal Konsep Dasar Termodinamika 2

  Oleh, Ahmad Iqbal Athoriq Hukum kedua Termodinamika menyatakan tentang kalor dalam sistem, menuru t Claussius sebuah siklus termodinamika tidak mungkin terjadi transfer kalor dari benda dengan temperatur rendah ke benda temperatur tinggi tanpa adanya kerja didalamnya . Gambar 1  Konsep Claussius Gambar 1 Menggambarkan konsep Claussius, Yang dimana menyatakan tentang arah perpindahan kalor dalam siklus termodinamika tertentu tidak sembarang dan memiliki kerja. Dalam kehidupan sehari-hari dapat dicontohkan saat kita membuat kopi panas saat kita diamkan dalam waktu cukup lama suhu pada kopi akan menyesuaikan dengan suhu lingkunganya, artinya ada perpindahan kalor. Hukum kedua termodianamika juga dinyatakan oleh Kelvin-Planck yaitu: “tidak mungkin membuat mesin yang bekerja dalam proses siklik yang tujuannya untuk mengkonversi energi panas ke energi kerja” . Suatu mesin kalor mustahil memiliki efesiensi 100%, yang dimana...